Teknologi IT KPU Pemilu 2009, Gagal Total?

Intelligent Character Recognition (ICR) adalah teknologi baru dan merupakan teknologi “canggih” yang digunakan

oleh KPU dalam Pemilu kali ini. Bagaimana tidak? Dengan teknologi ini maka setiap KPU di tiap tingkat daerah dapat mengirimkan rekapitulasi nya . Artinya setiap surat suara yang sudah digunakan oleh setiap warga negara dapat dipindahkan menjadi bentuk softcopy (file hasil scan) dan disimpan serta dibaca langsung oleh sistem ICR ini. Nah, hasil pembacaan inilah yang akhirnya menjadi nilai hasil perhitungan suara resmi yang ada di Pusat Tabulasi Nasional di Hotel Borobodur, Jakarta sebagai tempat monitoring langsung pergerakan perhitungan suara Pemilu Legislatif 2009.

Proses IT KPU Pemilu 2009

Proses IT KPU Pemilu 2009

20 April 2009 kemarin, Pusat Tabulasi Nasional Pemilu Legislatif 2009 resmi ditutup. Memang sudah merupakan jadwal dari awal bahwa penghitungan suara di Pusat Tabulasi Nasional ini akan selesai pada tanggal tersebut, minimal diharapkan 80% penghitungan suara dapat diselesaikan. Namun kenyataannya? Informasi yang saya dapatkan adalah : tidak lebih dari 10% penghitungan suara nasional masuk ke Pusat Tabulasi Nasional ini sampai dengan tanggal akhir tersebut.

Wow! luar biasa parah? rasanya komentar seperti itu yang keluar secara spontan melihat hasil seperti ini. Jauh sekali dari target awal bukan? Isu inilah yang akhir-akhir ini banyak sekali menjadi sorotan banyak media massa dan juga masyarakat. Dana Pemilu 2009 yang besar dan investasi IT KPU yang tidak sedikit serta hasil yang kita dapatkan sampai hari ini, rasanya tidak sebanding dan terkesan sia-sia. Belum lagi dengan isu-isu non teknis lainnya yang mengganggu legitimasi pemilu 2009 kali ini.

Bagaimana menurut Anda, para JagoanInternet? Apakah pantas sistem IT seperti ini dipakai lagi di Pemilihan Presiden berikutnya?

4 responses to “Teknologi IT KPU Pemilu 2009, Gagal Total?

  1. Dari penjelasan di http://tipemilu2009.wordpress.com , kegagalan bukan semata-mata kesalahan ICR nya, tapi karena kondisi nya. Penjelasan ini harus disebarluaskan, BPPT kan lembaga iptek, tentu kajiannya lebih didengar. Sbg orang awam, jgn sampai negara dirugikan, itu saja. Bandingkan juga dgn lelang Scanner + Software Data Capture ICR di BPS, Biro Pusat Statistik, senilai 34 Milyar utk 50 unit. Jika di KPU harga perunit @25 juta (ini pun masih ada kemungkinan markup) maka di BPS @600 juta. Lelang di BPS benar2 mengindikasikan markup, spesifikasi sgt mengunci shg tidak tercipta iklim kompetisi sehat, bahkan ada konspirasi agar pemenang lelang menghabiskan pagu dgn sistem lelang skrg. KPK dan KPPU harus memeriksa menuntaskan masalah ICR baik di KPU dan BPS.
    BPS harus belajar dari penggunaan ICR di KPU, agar kesalahan2 tidak terjadi lagi. Kompetisi sehat adalah mekanisme seleksi kualitas dan harga. Sudah kah ini terjadi di KPU? dan juga di BPS?

  2. Software ICR adalah untuk mengubah tulisan yang ada diform menjadi data text shg bisa diolah dikomputer melalui perangkat scanner (menurut kesimpulan hasil explorasi di Internet). Tentu membuat software ini sudah tidak sulit lagi utk ukuran jaman sekarang. Shg kegagalan ICR di KPU harus dijelaskan secara terbuka faktor2 penyebab gagalnya.

  3. Saya bukan jagoan internet tapi ingin ikut komentar. Ada gk kemungkinan gara2 tulisan tangan yang jelek bisa menimbulkan kesalahan, selain SDM nya yang masih belum terbiasa dengan alat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s