AS Rancang UU Berantas Terorisme Via Internet

Undang-undang (UU) anti-teror baru di AS, diajukan Rabu, yang bertujuan untuk memberantas kegiatan teroris yang dilakukan via Internet, sebagaimana jaringan Al-Qaidah mengembangkan berbagai kegiatan yang kian berbahaya secara online.

UU yang diusulkan itu akan menerapkan langkah-langkah seperti memperpanjang periode sampai kapan berbagai kafe Internet (cybercafe) harus menyimpan catatan data koneksi Internet, namun menghadapi kesulitan besar dalam perang melawan “pejuang di dunia maya” atau cyber-jihadist yang mampu menghindari pelacakan berkat sifat Internet yang cair dan cerdas, demikian menurut para pakar.

Para teroris memanfaatkan Internet untuk melakukan “komunikasi, rekrutmen, perencanaan” dan yang lebih penting lagi instruksi militer, kata Rita Katz, kepala lembaga Search for International Terrorist Entities (SITE).

“Segalanya ada, Internet menggantikan kamp latihan,” katanya.

Satu metode yang dikaitkan dengan Khaled Sheikh Mohammed, orang yang dicurigai sebagai dalang serangan 11 September 2001, adalah sistem “kotak surat mati”, yakni seseorang menciptakan sebuah e-mail account, memberikan password kepada beberapa anggota sebuah kelompok dan berkomunikasi dengan menyimpan pesan pada folder draft message tanpa mengirimkannya.

Komunikasi dengan metode ini tak dapat dimonitor karena sistem pemerintah untuk pelacakan e-mail hanya bekerja bila seseorang mengirimkan e-mail, kata Rohan Gunaratna, kepala riset terorisme pada Institut Pengkajian Startegis dan Pertahanan di Singapura.

“Cara tersebut digunakan Khaled Sheikh Mohammed, yang menjadi dalang dari serangan 11/9, untuk berhubungan dengan jaringan global,” kata Gunaratna.

Jika situs milik teroris diserang, orang yang mengelola situs tersebut dapat mempublikasikannya kembali.

Banyak para pelacak Internet menemui kesulitan karena mereka umumnya tak memahami bahasa mereka dan orang yang mengelola situs teroris “boleh jadi hanya merubah warna situs mereka dan mengubah tulisan pada bagian atas, menyebut dirinya dengan sesuatu yang lain dan merubah format. Isinya tetap sama,” kata Rebecca Givner Forbes, analis intelejen yang memonitor Internet for the Terrorisme Research Centre, sebuah perusahaan yang dikontrak pemerintah AS.

Menurut Givner Forbes, metode yang paling umum yang digunakan situs web kaum militan adalah online message board yang dilindungi password. Hanya anggota saja yang dapat menggunakannya.

sumber : kapanlagi.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s