Asal Murah, Layanan Wimax Jadi Pilihan

Teknologi komunikasi data nirkabel berpita lebar (broadband wireless access) menggunakan Wimax bisa menjadi solusi layanan internet murah berkualitas. Hal ini ikut ditentukan kesiapan pelaku lokal, baik vendor maupun operator.

Ketua Lembaga Riset Sharing Vision Dimitri Mahayana mengatakan, tertundanya pemberlakuan Wimax di Indonesia saat ini sengaja dilakukan untuk memberi kesempatan pemain lokal mempersiapkan diri. Tantangan terberat, khususnya pada vendor. Semakin banyak pemain atau komponen lokal terlibat, khususnya vendor, maka makin terjangkau layanan yang dihasilkan nantinya.

“Idealnya, harga peralatan CPE (costumer premises equipment , terminal modem) di tingkat pengguna akhir, berdasarkan Wimax Forum, idealnya 20-40 dollar. Jika berada (harga) di bawah 100 dollar, pelanggannya bisa mencapai 10 juta,” ujar dosen Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung ini. Berdasarkan hasil survei, kurang dari 30 persen pengguna yang tertarik berlangganan Wimax selama masa uji coba kecuali digratiskan.

Sayangnya, beberapa vendor lokal saat ini justru mengambil ancang-ancang harga kisaran USD 100-400, terutama pada jenis outdoor station. Sejumlah vendor, misalnya PT Dama Persada yang memproduksi chipset Wimax lokal merek Xirka, sejak jauh-jauh hari berancang-ancang memberikan harga ekonomis. Saat dikonfirmasi, Direktur Desain Chipset PT Dama Persada Trio Adiono belum bersedia menyebutkan kisaran harga jual.

“Xirka memang diproyeksikan untuk perangkat mobile station yang difungsikan di laptop ataupun ponsel, baik dalam bentuk perangkat USB dongle ataupun mini card. Jadi, pemanfaatannya mudah, plug and play (pasang dan gunakan) layaknya layanan internet broadband. Tarif layanan Wimax idealnya 100-200 ribu atau maksimal Rp 300.000 per bulan nantinya,” ucap Dimitri.

Adapun kecepatan akses data Wimax adalah 15 megabit per detik atau tiga kali lipat dari kecepatan teknologi 3,5 G. Berbeda dengan broadband jenis lainnya, Wimax ini punya keuntungan khusus, yaitu cocok dimanfaatkan di wilayah rural. Jangkauannya pun mencapai 15 kilometer point to point.

“Berbeda dengan teknologi komunikasi sebelum-sebelumnya, industri lokal kita akan lebih banyak bermain. Kandungan lokal minimal 40 persen nantinya,” ujar Jaka Sembiring dari Pusat Pelayanan Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika RI.

sumber : http://tekno.kompas.com